Semua berawal dari niat kerasku yang ingin segera kuliah ke Amerika. Padahal aku baru akan lulus SMA bulan depan. Sekarang, aku telah usai mengurus semuanya. Bahkan jaminan beasiswa dari Universitas Boston telah kukantongi. Aku tinggal berangkat saja. Padahal aku belum izin kepada kedua orang tuaku.
Tetapi sungguh tak kusangka keberangkatanku ke Boston bakal serumit ini. Dan yang amat kusayangkan, kerumitan itu justru datang dari orang-orang terdekatku. Dari kedua orang tuaku. Padahal sebelumnya aku ingin menjadikan permintaan izin ini sebagai surprise bagi mereka, bahwa putera keduanya telah mendapat beasiswa untuk kuliah sarjana di Amerika. Tapi momen pamitanku kepada mereka justru menjadi momen menyedihkan. Baru kali ini aku menyaksikan ibuku meneteskan air mata di depanku.
“Nak, selamanya ibu tak ‘kan rela kau ke sana. Tak ‘kan rela”.
Hatiku yang keras ini tertunduk mendengarnya. Harapanku pupus oleh kalimat itu.
“Tapi aku butuh ke sana, Bu.” Kalimatku singkat. Sengaja kupilih diksi terbaik untuknya. ‘Aku butuh ke sana’, bukan ‘Aku ingin ke sana”.
Aku tahu, ibu melarangku berangkat bukan karena tidak ingin aku jauh darinya. Karena sejak kecil aku sudah terbiasa hidup jauh dari kedua orang tuaku. Sejak lulus Madrasah Ibtidaiyah aku sudah hidup di pesantren hingga SMA.
Satu bulan lagi aku sudah menerima ijasah SMA ku. Dan aku sudah siap berangkat ke Amerika tiga bulan lagi. Tetapi hingga sekarang, niat itu masih terhalang oleh aksi ibuku.
Aku tahu ibu tak ‘kan melarangku melakukan apapun kecuali yang dirasa berbahaya bagiku. Lebih tepatnya berbahaya bagi agamaku. Bagi keislamanku. Ibu merasa Amerika memiliki medan magnet kekafiran yang cukup kuat. Ibu takut aku akan terseret ke dalamnya.
“Nak, lihatlah si Amir, empat tahun dia belajar di Amerika, begitu pulang kau lihat itu ulahnya, sudah berani menghalalkan minuman keras”.
Amir adalah tetanggaku yang tiga tahun yang lalu baru wisuda dari Universitas Boston, di Massachusetts, Amerika Serikat. Universitas yang akan kutuju. Tapi usianya jauh di atasku. Ia menyelesaikan program doktornya di sana. Satu tahun kelulusan ia tiba-tiba menulis buku tentang islam progresif. Tapi yang didengar ibuku tentang buku Miftah hanya tentang pendapat halalnya minuman keras yang dikemukakan oleh Miftah dalam buku itu. Itupun diketahuinya sepenggal-sepenggal, pun didengarnya dari kakakku yang sempat membaca buku tersebut.
“Aku yakin bisa menjaga diri, Bu”
Wajah ibuku masih sembab. Tak tega aku menyaksikan wajah polos itu menangis karenaku. Aku tahu ibu begini karena sangat mengkhawatirkan puteranya jatuh ke lembah kekufuran di negeri adidaya itu.
“Baiklah kalau itu keinginan ibu. Akan saya batalkan beasiswa itu”
Lidahku mengatakannya dengan lemah. Wajahku lesu. Hilang sudah harapanku untuk belajar di negeri Barat. Aku berjalan tanpa semangat meninggalkan ibuku.
“Rif” Ibuku tiba-tiba memanggilku,”Temui Kiai Nurhasyim, tanyakan pada beliau, jika beliau setuju kau berangkat ke Amerika, maka berangkatlah, Nak”.
Aku terperanjat. Girang bukan main. Segera kuraih tangan ibu, kucium, dan segera aku berlari meraih motor buntutku. Aku akan menemui Kiai Nurhasyim sekarang juga. Aku yakin beliau lebih bijak dari ibuku. Pasti dengan mudah aku akan diizinkannya. Karena enam tahun sudah aku membersamainya di pesantren. Beliau lebih tahu sejauh mana ilmu agamaku. Beliau lebih paham kadar keimananku. Beliau lebih ngerti tingkat akhlakku.
Tapi setelah kuceritakan tentang niatku itu kepada Kiai Nurhasyim, aneh. Baru kali ini. Sungguh. Baru kali ini kiai Nurhasyim tak berani mengambil keputusan sendiri. Beliau merekomendasikan seorang ulama’ yang menurut beliau, ulama’ itu paling mumpuni ilmunya di kota ini ; Kiyai Asyikin Asghori. Aku diutusnya ke sana untuk nyantri selama dua bulan sebelum keberangkatanku. Setelah sukses nyantri dua bulan, kiai Nurhasyim janji akan mengizinkanku berangkat ke Amerika.
“Ingat Nak, kuatkan mentalmu saat berhadapan dengan Kiai Asyikin. Dia panas seperti terik mentari!” Pesan kiai Nurhasyim padaku.
Ah, apa maksudnya. Aku tak paham. Akhirnya beliau bercerita panjang lebar tentang Kiai Asyikin Asghori padaku, hingga tak sadar malam telah larut.
---- 0 -----
Kawan, sejak lama, matahari telah menyediakan warna-warni dalam terik sinarnya. Namun, langka manusia yang menemukan letak keindahan itu. Di tengah terik membakar, di selah peluh yang menetes-netes deras di pori, kebanyakan kita hanya bisa terisak pilu. Tetapi terbayangkah kita, saat gerimis tiba-tiba hadir di antara bumi dan surya, barulah kita tersadar, ternyata hujanlah yang sukses memperlihatkan warna-warni mentari kepada kita. Mentari yang cahayanya tajam, panasnya menghujam pori, membakar, memaksa keringat merembes deras keluar dari kulit, ternyata memiliki kilau yang sungguh memukau ; kilau pelangi. Dan pagi ini, akan kujemput kilau pelangi itu, di sini. Di pondok pesantren Miftahul Qulub.
Di depan pagar bangunan ini terpampang dengan jelas papan bdengan latar hijau muda bertuliskan teks Pesantren Miftahul Qulub. Pagi-pagi benar aku ke sini. Tetapi suasana sudah riuh. Syair Imriti, bait Ta’limul Muta’alim, teks indah Bulughul Maram, telah bersahutan antar ruang satu sama lain dari dalam pesantren ini. Aku kenal syair dan bait-bait itu sejak kecil. Kiai Nurhasyim telah memperkenalkan kitab-kitab itu kepadaku sejak kelas satu SMP. Dan aku baru bisa menghafalnya dengan lancar saat menjelang kelas tiga. Karena aku diperlakukan sebagai santri yang tak biasa oleh beliau. Di saat santri lain seusiaku baru belajar tajwid, aku sudah diperkenankan mempelajari Imriti. Dan kawan-kawan ngajiku adalah kakak-kakak yang sudah akan lulus SMA.
“Assalamu’alaikum” seorang perempuan seumuran ibuku menghampiriku.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarokaatu” Jawabku
“Maaf, Adik mau cari siapa?” Tanya ibu itu halus.
“Kiai Asyikin ada, Bu?” Tanyaku
“Iya, ada. Tetapi habis Shubuh hingga terbit matahari beliau di musholah. Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya, Dik?”
“Saya ada perlu sebentar dengan beliau.” Aku menjawabnya singkat. Agar aku tak perlu bercerita panjang lebar kepada ibu itu tentang tujuanku menemui Kiai Asyikin.
“Apa Adik hendak daftar menjadi santri baru di sini?” Ibu itu masih penasaran dengan maksudku menemui Kiai,”Kalau untuk urusan itu, Adik tidak perlu lama-lama menunggu Kiai Asyikin. Mari ibu antar ke sekretariat pendaftaran santri baru”
“Maaf Bu, saya ingin bertemu beliau dulu”
“Adik, menghadap kiyai Asyikin terlalu beresiko bagi calon santri baru seusia adik.”
Aku tersenyum.
“Iya Bu, saya sudah dengar tentang Kiai Asyikin dari Kiai saya dulu. Insyaallah saya sudah mempersiapkan diri menghadap beliau”.
Ibu itu menatapku heran. Kemudian senyuman halus keluar dari wajahnya.
Oia, perlu kawan tahu, Kiai Asyikin Asghori, sebagaimana pesantren Miftahul Qulub, adalah paling tua usianya di kota ini. Kata Kiai Nurhasyim, beliau orang hebat. Tidak diragukan, santri-santri lulusan pesantren ini bukan sembarang. Hampir semuanya menjadi orang luar biasa di masyarakat. Kawan tentu pernah mendengar nama KH. Abdur Rasyid, KH. Arif Wahyudi, KH. Ahmad Rifa’i, KH. Miftahul Munir, kiai-kiai besar itu, mereka adalah alumni pesantren ini. Pernah juga ‘kan dengar nama Dr. Warkiso, Prof. Dr. Suwaji, Ir. Khoirul Anwar, politikus-politikus yang kondang tentang ketajaman kritik dan kejujurannya itu, mereka juga alumni dari pesantren ini. Tentu kawan juga pernah dengar nama Ahmad Dhani, Maia Estiyanti, Agnes Monica, Pasha Ungu, Ariel Peterpan, juga Luna Maya. Mereka bukan santri kiai Asyikin. Karena tidak ada santri beliau yang jadi artis.
“Baiklah” Kata ibu itu,”Kalau Adik masih bertekad menemui beliau, mari saya antar ke musholah”
Aku mengangguk.
Kami akhirnya berjalan melewati depan deretan ruangan-ruangan tertutup yang dari tadi mengeluarkan suara-suara berlirik indah, bersahutan, merangkai antar bait kitab sehingga mudah dihafal. Ibu itu belok ke kiri. Melewati lorong sempit, lebarnya tidak lebih dari setengah meter. Sehingga terpaksa aku mengekor.
“Ini Dik musholahnya. Silahkan tunggu di serambi dulu hingga beliau keluar”.
“Iya Bu, terima kasih banyak”
Aku tersenyum.
“Sama-sama, Dik. Ibu tinggal dulu. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokaatu”
“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarokaatu Waridhwaana”
Ibu itu terdiam. Menatapku sejenak, kemudian mekar kembali senyum indah dari wajahnya.
Aku duduk di serambi mushollah. Kuamati bangunan yang disebut oleh ibu tadi sebagai mushollah ini. Ah, di kampungku bangunan sebesar ini pasti sudah disebut masjid. Memang tidak ada batasan yang mengatur dimensi suatu bangunan sehingga lebih layak disebut sebagai masjid atau mushollah. Bukankah makna religiusnya sama saja. Masjid itu tempat bersujud. Musholah itu tempat sholat. Orang sholat ‘kan juga pakai sujud. Tetapi kita bisalah maklum. Harus ada konvensi dalam menentukan tradisi budaya masyarakat.
Menurut tradisi, mushollah itu ukuran bangunannya lebih kecil dibandingkan masjid. Bisa berupa bangunan tersendiri, atau bisa juga berupa satu ruangan di suatu gedung atau di dalam rumah. Dan pada umumnya mushollah tidak digunakan untuk sholat jumat. Beda dengan masjid. Padahal sholat jumat bisa saja dilaksanakan di ruangan biasa yang secara formal bukan mushollah atau masjid. Bahkan di lapangan atau di manapun OK saja asal memenui syarat. Di manapun kita bersujud, tempat itu hakekatnya masjid. Di manapun kita sholat, tempat itu adalah mushollah.
Krieeett….
Bunyi pintu membuyarkan lamunanku. Pintu mushollah terbuka, diiringi keluarnya sosok manusia jangkung, berjenggot lebat, tak berkumis, berjubah putih,dan kepalanya dihiasi peci hitam. Ah, aku teringat kotoran cicak. Pasti ini yang namanya Kiai Asyikin.
Aku terdiam sejenak memandangnya. Beliau ngeloyor mengabaikan kehadiranku di depannya. Merasa dianggap tak ada, aku segera bangkit dari dudukku.
“Maaf Kiai”
Beliau menghentikan langkahnya.
“Saya dari tadi menunggu kiai”
“Untuk apa?” Jawabnya dingin.
“Untuk meminta izin belajar di pesantren ini. Tetapi sebelum menjadi santrinya kiai, saya…”
“Stop!” Kiai Asyikin memotong kalimatku. “Siapa yang mau mengangkatmu menjadi santri? Dan siapa yang melantikku sebagai kiai? Siapa yang bilang aku mau menerima santri? Jaga mulut. Jangan ngomong seenaknya!”
Aku menunduk. Terdiam. Tak kukira sebelumnya, bahwa beliau sekeras ini. Inilah yang dimaksud Kiai Nurhasyim sebagai terik mentari. Kalimatnya tajam, panas, membakar. Membuat keringatku mengalir deras.
Tetapi jangan harap aku akan menyerah. Tak ada kata menyerah dalam kamus hidupku. Akan kuhadapi mentari itu dengan tegap. Akan kujemput pelangi darinya.
“Saya datang kesini ingin belajar, menjadi murid kiai” Kataku sekenanya.
“Apa yang kau tahu tentang murid?” Nadanya tetap panas. Tegas.
Bibirku gemetar.
“Murid.. ya murid Kiai”
Ah, bodohnya kalimatku. Kiai Asyikin mengerutkan dahinya.
“Bahasa apa itu murid?”
“Bahasa Arab Kiai”
“Apa asal usulnya?”
“Aroda, yuridu, muridan..”
“Artinya?”
“Orang yang berkehendak”
“Lalu apa hubungannya dengan belajar? Aku juga orang yang berkehendak. Aku juga murid. Kenapa kau belajar ke sini?”
Beliau membalikkan badan. Berjalan kembali menuju mushollah. Beliau duduk bersila di serambi. Aku mengekor saja.
“Begini Kiai. Saya orang yang berkehendak untuk belajar, menimbah ilmu dari Kiai. Jadi saya ingin menjadi muridnya Kiai.”
“Aku juga belajar. Aku juga menimbah ilmu dari kamu. Dari air, dari api, dari angin, dari batu. Dari air aku bisa belajar kejernihan hidup. Dari api aku bisa belajar keberanian. Dari angin aku belajar kedamaian. Dari batu aku belajar ketegaran. Bukankah ilmu Tuhan itu di mana-mana?”
“Saya ingin Kiai menjadi guru, menjadi kiai saya, dan saya menjadi muridnya kiai, santinya kiai, agar ilmu yang…”
“Kacaulah sudah!” Kiai Asyikin untuk yang kesekian kalinya memotong kalimatku. ”Atas dasar apa kau berani pisahkan dan bedakan guru dengan murid? Apa dasarmu berani-beraninya mengkotak-kotakkan santri dengan kiai?. Guru yang bukan murid itu riya’ dan angkuh. Murid yang bukan guru, itu goblok. Kiai yang bukan santri, itu sombong. Santri yang bukan kiai, itu pasti tak maju-maju”
Aku menunduk.
“Maaf, Kiai, saya harap kiai memberikan semua ilmu itu setelah kiai menerima saya sebagai santri”
“Siapa yang memberikan ilmu padamu? Ha? Kamu pikir aku pernah punya ilmu, bahkan sehelai rambut pun aku tak pernah punya. Semua milik Allah”
“iya kiai, tapi bagi saya, Kiai adalah pemantul ilmu Tuhan yang ada di dekat saya. Karena itu saya ingin menjadi murid Kiai. Saya ingin belajar agama kepada kiai”
Kiai geleng-gelengkan kepalanya.
“Keras kepala sekali kau ini. Kau ingin belajar agama padaku?".
Aku makin tak berani menatap wajahnya.
“Baiklah” Kiai menyambung kalimatnya “Kalau kau tetap bersikeras ingin belajar di sini, jawab dulu pertanyaanku. Kalau kau tak bisa menjawab, pulanglah!”
Aku berpikir sejenak.
“Tapi kiai..”
“Untuk apa Allah menurunkan agama?” Kiai memotong protesku dengan pertanyaan itu.
"Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,"
"Berapa jumlahnya?"
"Satu, Kiai."
"Tidak dua atau tiga?"
"Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan."
"Apa nama agama yang dimaksudkan itu?"
"Islam, kiai."
"Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?"
"Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda."
"Kenapa kau katakan demikian?"
"Sebab Allah sangat adil. Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya cahaya Islam."
"Kalau demikian, seorang muslimkah Adam?"
"Benar, Kiai. Adam adalah muslim pertama dalam sejarah umat manusia."
Kiai melepas peci dari kepalanya.
"Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain Islam?"
"Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik semata, kiai, bukan anggapan akidah."
"Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?"
"Saya mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu, kiai, tapi tentu sebelum dimanipulasikan, sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disermpurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama, sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia."
Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajahku lalu melanjutkan pertanyaannya.
"Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?"
"Islam, Kiai."
"Apa agama Ibrahim?"
"Islam."
"Apa agama Musa?"
"Islam."
"Dan agama Isa?"
"Islam."
"Sudah bernama Islamkah ketika itu?"
"Tidak, Kiai, demikian kehendak Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Demikian Al Qur’an menyebutkan”.
“Mengapa kau menjawab dengan dasar Al Qur’an?.”
“Karena Al Qur’an adalah firman Allah yang pasti kebenarannya. Karena Al Qur’an adalah mukjizat Rasulullah yang paling hebat, Kiai”
“Apa ada dasar ilmiah untuk membuktikannya?”
Kali ini aku berpikir sejenak.
“Masuklah ke dalam. Ambil satu Al Qur’an.!”
Aku berdiri dan masuk ke dalam mushollah untuk segera mengambilnya. Kuambil Al Qur’an yang ukurannya paling besar.
“Bukalah dengan acak! Lalu bacalah satu ayat yang kau lihat”
Aku membukanya dengan acak. Terbuka halaman surat Al Kahfi. Mataku menuju ke satu ayat, tepat menatap ayat ke-25 dari Al Kahfi. Segera ku membacanya.
“Apa itu artinya ayat itu?” Tanya Kiai
“Dan mereka tinggal dalam gua tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.” Jawabku.
“Kau tadi bilang Al Qur’an adalah mu’jizat terbesar dari Rasul Muhammad. Apa mu’jizat ayat yang baru saja kau baca itu?”
Gila! Pertanyaan apa ini. Mana kutahu. Aku hanya tahu bahwa ayat itu menceritakan berapa lama Ashabul Kahfi tinggal di dalam goa.
“Mengapa ayat itu mengatakan tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi?. Kenapa tidak 300 saja atau 309 saja?”. Kiai melanjutkan pertanyaannya.
“Rasul dulu pernah ditanya oleh sahabat tentang itu, dan Rasulullah tidak menjelaskannya.” Jawabku.
“Dasar goblok!” Kiai membentak. Dan aku merinding, “Kau ini hidup di 14 abad yang silam ya!”
Keras sekali. Aku menunduk.
“Rasul dulu menjawab seperti itu” Kiai menjelaskan, “hanya untuk menyesuaikan tingkat intelektualitas kaumnya saat itu. Sedangkan kau yang saat ini sudah mempelajari teknologi sedemikian canggih masih bisa-bisanya menjawab dengan jawaban 14 abad yang silam. Apa yang kau pelajari di sekolah 12 tahunmu itu?. Pulanglah! Kau hanya merepotkanku di sini!”
“Tapi kiai…”
Kiai Asyikin bangkit meninggalkanku.
Aku tak mungkin pulang. Aku harus kuliah di Amerika.
Aku terus berpikir, apa makna ayat itu. Tiga ratus tahun? Ditambah Sembilan? Kenapa tidak tiga ratus saja? Atau tiga ratus sembilan saja?. Otakku semakin memanas.
Sementara kutatap mentari sudah mulai meninggi. Allah, tolong ijinin saya ke Amerika donk..! aku membaringkan tubuhku. Setelah beberapa menit berpikir,,
Aha.. Ada sesuatu melesat-lesat di kepalaku. Ya.. Mentari? Matahari? Sun? Syamsi?. Jangan-jangan inilah rahasia ayat itu. Tahun apakah yang digunakan oleh ayat itu?. Tahun berdasarkan revolusi bumi mengelilingi matahari, ataukah berdasarkan bulan berotasi mengelilingi bumi?.
Pertanyaan melompat-lompat di batok kepalaku. Sambung menyambung, secara otomatis saling terhubung. Dan..
Ting..!
Eureka!!
Aku segera berlari mengikuti arah jalan kiai. Kulihat Kiai Asyikin baru akan masuk ke dalam suatu ruangan. Mungkin itu rumahnya.
“Kiai… Kiai.. Saya tahu Kiai” teriakku.
Kiai menoleh. Menghentikan langkahnya. Aku menghampirinya.
“Dalam konteks ayat yang saya baca tadi, Al Qur'an bermaksud menyingkap rahasia dua penanggalan yang biasa di pakai oleh umat manusia, yaitu kalender Hujriyah dan Masehi.”
Dengan lancar dan meyakinkan kuucap kalimat itu didepan Kiai.
“Duduklah!” Kata kiai
Kiai mempersilahkan aku duduk di ruang tamunya.
“Maksudmu?” Tanya kiai
Ku melanjutkan menjawab pertanyaan itu sambil menuliskannya di selembar kertas.
“Insyaallah begini Kiai,
300 tahun Masehi = 300 x 365 hari = 109500 hari
300 tahun Hijriah = 300 x 354 hari =106300 hari
Perbedaan jumlah hari keduanya adalah 3200hari. Maka jumlah tahun bagi keduanya
3200: 354 = 9,03 tahun Hijriah. Dan jika 3200 itu dibagi dengan jumlah hari dalam satu tahun di kalender Masehi, hasilnya pun Sembilan. Maka jika dihitung dalam penanggalan Masehi, berarti Ashabul Kahfi berdiam di goa selama 300 tahun, sementara kalau dihitung dalam penanggalan Hijriyah, maka mereka berdiam di sana selama 309 tahun. Masehi lebih dahulu di sebutkan dari Hijriyah karena penanganggalan Masehi lebih tua dari penanggalan Hijriyah. Disini jelas bahwa Allah ingin mengenalkan kepada manusia dua konsep penanggalan dan menyerahkan kepada manusia untuk memilih penanggalan yang mereka gunakan.”
Aku menjawabnya dengan lancar. Fantastis! Sungguh belum pernah aku berpikir tentang ini sebelumnya. Masyaallah.
Kiai Asyikin tersenyum. Kemudian meminta selembar kertasku tadi. Kemudian menuliskan sesuatu di halaman kosong di balik coretan hitunganku itu. Kemudian melipatnya.
“Berikan ini kepada Nurhasyim, bilang padanya, bahwa aku sudah mengizinkanmu untuk berangkat ke Amerika.”.
Pelangi!!. Telah kuungkap pelangi itu dari terik wajah Kiai Asyikin yang tajam. Kiai Asyikin Asghori, ternyata sudah mengetahui kedatanganku sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan spontan sejak tadi ternyata untuk menguji pemahaman dan tingkat keimananku sebelum akhirnya mengizinkanku untuk bertempur di Amerika.
Salam,
![]() |
| Ahmad Rifai Rifan |
Ahmad Rifai Rifan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar