Selasa, 28 Agustus 2012
belajar dari siapaun
Kawan aku memang bukan orang yang bisa menulis indah. Tapi aku ingin menjadi orang yang banyak gunanya. karena itu aku belajar dari siapapun dan apapun
#Hari Gini Dakwah masih dengan Kekerasan?#
#Hari Gini Dakwah masih dengan Kekerasan?#
Seorang perantau bingung di tengah semrawutnya Surabaya, dia pun tanya kepada bapak A, "Maaf Pak, jalan menuju Kampus ITS itu ke mana ya?". Bapak A menjawab, "ITS belok kanan dik". Eh, anak muda itu malah belok kiri. Bapak A negur, "Hey, sudah kubilang ITS itu belok kanan". Anak muda itu terus saja belok kiri. Bapak A lantas menggebuki anak muda tersebut.
Lucu kan?. Tapi seringkali, seperti itulah karakter keberagamaan kita. Padahal tugas kita adalah penyeru, penasehat, pengingat. Jangan ada tindak pemaksaan kehendak dalam menyeru. Apalagi sampai pada tindak kekerasan. Karena Tuhan dan Rasul kita sejak dulu telah melarang itu. Karena Tuhan kita menghendaki perbedaan pemahaman dan penafsiran bisa menjadi rahmat, bukan malah menjadi adzab.
Saudaraku, tak jarang kita terjebak dalam sikap mutlak-mutlakan dalam menyikapi perbedaan. Merasa pemahaman islam yang kita yakinilah yang paling benar, sedangkan yang selain kita, salah, sehingga harus dipaksa menuju pendapat yang kita yakini. Tentu saja kecenderungan ini salah satu pertanda realitas sosial yang tidak sehat. Sikap menganggap hanya keyakinan kita sendiri yang benar dan yang lain salah, itu muncul hanya karena ekspresi naluri kemanusiaan kita yang senantiasa ingin mempertahankan kebenaran yang kita yakini.
Namun, saudaraku, apakah lantas naluri itu menyebabkan kita dengan mudah melabeli orang-orang yang sependapat dengan kita sebagai ‘kawan’ serta melabeli yang tak sependapat dengan kita sebagai ‘lawan’?. Apakah lantas naluri itu menyebabkan kita mudah tersinggung, cepat jengkel, gampang marah, dan spontan naik pitam ketika melihat ada pemahaman baru yang disodorkan kepada kita?.
Saudaraku, kebenaran islam itu sangatlah luas, dan kita hanyalah salah satu orang yang berusaha menjadi salah satu penghuni di luasnya kebenaran itu. Tentu bukan hal yang bijak jika kita mempersempit islam sebatas pemahaman kita tentangnya. Mungkin kemusliman kita ini masih belum ada apa-apanya dibanding dengan yang dikehendaki Allah. Maka alangkah indahnya jika kita senantiasa berada dalam kesiapan menerima nilai-nilai kebenaran yang mungkin dulu belum kita insafi.
Saudaraku, banyak hal yang belum kita tahu. Banyak pengalaman yang belum kita serap hikmahnya. Banyak tafsir yang masih belum kita renungi. Banyak ilmu yang belum kita amalkan. Yang kita tahu tak lebih dari sebiji dzarrah dibanding realitas kebenaran yang disediakan oleh Allah.
Maka, saudaraku, ketika kita telah meyakini sebuah kebenaran, agaknya kalimat berikut bisa menjadi bahan renungan, ‘Apa yang telah saya yakini, inilah yang menurutku benar, tapi mungkin ada salahnya. Sedangkan apa yang anda yakini itu menurut saya salah, tapi mungkin ada benarnya’. Dengan kesadaran itu, semoga kita bisa menjadi manusia yang rilex menyikapi perbedaan pendapat. Tidak mudah menutup diri jika datang kebenaran-kebenaran baru. Tidak mudah membatasi diri pada pemahaman-pemahaman lama yang masih memiliki peluang terhadap kesalahan.
Saudaraku, satu yang pasti, semua manusia mendambakan kebaikan. Seperti tumbuhnya tunas pohon yang ditempatkan dalam gelap, ketika tunas itu menjumpai seberkas cahaya dari sebuah lubang kecil sekalipun, ia akan tumbuh menuju cahaya itu. Begitulah jiwa manusia. Pada hakikatnya tak ada orang yang mau berada di jalan yang sesat. Secara fitrah, nurani manusia senantiasa mendambakan cahaya. Hati manusia senantiasa mendamba datangnya hidayah.
Maka ketika kita melihat kedzaliman, yang kita benci janganlah orangnya. Bencilah kedzalimannya. Karena mungkin jiwa orang itu belum menjumpai berkas cahaya. Mungkin ia masih berproses mencari cahaya. Bantulah ia. Cintai dia. Jangan malah dijauhi. Bahkan seharusnya kadar cinta kita kepadanya jauh lebih tinggi. Mengapa?. Karena ia masih membutuhkan cahaya. Bersabarlah dengan proses setiap manusia. Jangan pernah berpikiran final. Temanilah orang yang belum sholat agar ia segera sholat. Dampingilah orang yang suka berjudi agar perlahan ia meninggalkan judinya. Temanilah para koruptor agar ia segera menaubatinya.
Mudah yah kalau diungkapkan dengan kata?. Saya percaya memang hal ini sangat sulit jika diaplikasikan dalam perbuatan. Tapi sulit bukan berarti harus ditinggalkan sama sekali, bukan?.
Prinsip dakwah Rasulullah pun sangatlah santun, sehingga wajar bisa dengan cepat diterima dan menyebar di seluruh Jazirah Arab. Metode dakwah beliau yaitu bil hikmah. Dengan hikmah. Berdakwah dengan tegas, arif, dan jelas, agar umat dapat memahami kebenaran dengan jelas.
Lalu dengan mau’idhatil hasanah. Memberi nasehat yang baik, dengan menyenangkan, menyejukkan, tidak menyakitkan, tidak memaksa. Agar seseorang tertarik untuk mengikuti ajakan kepada kebenaran berdasarkan kesadaran dan hasil proses pemikiran, bukan dengan doktrinasi, apalagi hasil pemaksaan.
Bahkan ketika harus berdebat untuk menyampaikan kebenaran, perintah kesantunan masih berlaku. Berdebatlah dengan cara yang baik.. Wajaadilhum billatii hiya ahsan. Karena ada kalanya dakwah dilakukan dengan diskusi, tukar-pendapat, dialog.
Dengan metode dakwah seperti itu insya Allah keberhasilan terbuka lebar dan mudah tersebar dalam waktu yang relatif singkat. Dalam Surah QS. An Nahl ayat ke seratus duapuluh lima Allah telah berfirman, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan berdebathlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”.
Ketika dakwah tertampilkan dengan indah dan santun, semoga cahaya akan datang kepada sebanyak mungkin manusia. Dan manusia-manusia itu akan berkumpul mendekati cahaya, mengitarinya seperti laron-laron yang senantiasa berkerumun di sekitar pelita.
Sumber : Buku "Izrail Bilang Ini Ramadhan Terakhirku" dengan beberapa perubahan, karya: Ahmad Rifai Rifan
Langganan:
Postingan (Atom)

