Selasa, 28 Agustus 2012

#Edisi Ngomporin Nikah Muda# (Lengkap)

#Edisi Ngomporin Nikah Muda# (Lengkap)

"Mau nikah tapi belum ada modal mas?"
Nikah kok pake nunggu ngumpulin modal, emang mau buka toko!. Nikah kok nunggu mapan, nunggu kaya, nunggu sejahtera. Kebalik tuh. Segera nikah, biar segera dimapankan, dikayakan, disejahterakan :)

"Tapi saya masih belum lulus kuliah mas?".
Emang sejak kapan rukun nikah pake ijasah?.

"Saya belum punya kerjaan tetap mas?".
Nggak penting itu punya kerjaan tetap, yg penting tetap punya penghasilan :)

"Rencana saya nikah umur 30-an gitu mas"
Coba deh diitung2, umpama cowok nikah usia 30. Anaknya lulus kuliah udah berapa tuh usia sang bapak?. Yup, lebih dari 50 taun. Kalo nikahnya umur 20?. Usia 40-an sudah bisa gendong cucu tuh :)

"Apa sih mas perbedaan besar antara pacaran dg nikah?"
Pacaran? Rawan maksiat. Nikah? Rawan rahmat :)

"Nikah muda itu bahaya lho mas, psikis pasangan muda kan labil?".
Mangkanya buruan nikah, biar segera stabil :)

"Tapi pacar saya sudah sayang banget ma saya mas".
Buat kalian yg masih melihara pacar, katakan pada pacar kalian, "Bukti cinta sejati bukan "I love you", tapi "qobiltu" :)

"Mas, saya nunda nikah karena belum siap dari segi finansial?".
Lho, kenapa nikahnya yg ditunda, kenapa nggak finansialnya aja yg dipercepat? :)

Status ngomporin nikah ntar lagi dilanjut ya. Istri ngajak jalan2 lagi nih :)
Oh ya, jalan2 sama istri itu ngoleksi pahala, lho. Kalo sama pacar? Jawab sendiri dah :)

"Cieee, mas Fai mentang2 udah nikaaah :)"
Cieee, mentang2 yg belum berani nikaaah :)

"Apa sih mas enaknya nikah muda?"
Bocoran nih ya, ibu saya dulu nikah usia 17 taun, sekarang di usia beliau yg baru 42 taun, beliau udah tenang, karena anak2nya dah lulus kuliah, bahkan anaknya yg paling imut nih dah berani berumahtangga, hehe :)

"Saya sering tahu ada orang dewasa yg nggak nikah2?"
Lelaki dewasa yg belum juga berani nikah kemungkinannya hanya 2: terlalu banyak maksiat, atau kejantanannya perlu dipertanyakan :). Udahlah, daripada tersinggung, mending berubah :)

"Nikah muda itu bahaya lho mas. Rawan perceraian, karena kondisi emosional, finansial, psikis, anak muda masih labil. Nikah muda itu rawan lho mas. Bayi yg lahir oleh pasangan muda itu bla bla bla".
Udahlah, jangan banyak alesan, diketawain sama ibu saya tuh :)

"Jangankan nafkahin istri, nafkahin diri sendiri saja belum bisa mas!".
Hah? Usia muda dipake ngapain aja tuh?.

"Mas, saya pingin membahagiakan ortu dulu. Masak baru lulus, baru kerja, langsung minta nikah?".
Bukankah lebih mulia kalo kita membahagiakan ortu, istri, juga mertua?.

"Mau fokus di karir dulu mas".
Astaghfirullah, masih nggak percaya juga dg firman Tuhan?. Nikah itu ngundang rezeki, bukan malah menghambatnya. Udahlah, pokoknya orang keren adalah orang yg nggak suka cari2 alasan :)

"Mas, modal nikah itu berapa sih?"
Seringan mungkin. Muslimah mulia adalah yg ringan maharnya. Resepsi, sesederhana mungkin. Undangan, sehemat mungkin. Jangan boroskan duit di resepsi.

Nah, di sini udah mau buka puasa nih. Bersiap menyantap lezatnya masakan istri. Temen2 buka puasa masakan siapa?. hehe..

"Mas, adakah penelitian yg membuktikan nikah bikin kaya?"
"Kenapa ada yg usai nikah tapi hidupnya malah berantakan?"
"Kenapa kita lebih disaranin nikah muda?"
"Gimana agar ortu ngizinin kita nikah muda?"
"Kalo belum ketemu jodoh gimana?"
"Kalo belum bisa menafkahi istri?"

Ada yg masih butuh jawaban?. Kalo ada, nantilah insyaallah saya jawab, jawaban khusus hanya buat mereka yg masih bertanya2 :)

"Kenapa sih mas daritadi ngomporin nikah muda?".
Karena saya pingin anak2 muda sebahagia kami, hehe.

"Aduh, mas Rifai, puasa2 ngomporin nikah :)"
Yg dah nikah, sahur dibangunin istri. Yg belom nikah? Betah amat bertaun2 dibangunin alarm :). Yg dah nikah, terawih berjalan ke mesjid bareng istri. Yg belom? Kaciiiaaan :). Yg dah nikah, buka masakan istri. Yg belom? Betah amat seumur2 nasi bungkusan :). Yg dah nikah, pas tilawah, ada yg dengerin, ada yg nyimak, ada yg benerin. Pas tidur, ada yg nemenin. Pas sedih, ada yg dicurhatin. Pas nangis, ada pundak tempat bersandar. *Ciyeee.. :) Daripada pingin, buruan berbenah, dan segera nikah muda :)

Nikah ituuuu, menenangkan. Juga menyenangkan. Beneran. Apalagi nikah muda, beuuh, serasa kayak pacaran. Tapi ini pacarannya keren, pacaran setelah pernikahan :)

belajar dari siapaun

Kawan aku memang bukan orang yang bisa menulis indah. Tapi aku ingin menjadi orang yang banyak gunanya. karena itu aku belajar dari siapapun dan apapun

#Hari Gini Dakwah masih dengan Kekerasan?#


#Hari Gini Dakwah masih dengan Kekerasan?#

Seorang perantau bingung di tengah semrawutnya Surabaya, dia pun tanya kepada bapak A, "Maaf Pak, jalan menuju Kampus ITS itu ke mana ya?". Bapak A menjawab, "ITS belok kanan dik". Eh, anak muda itu malah belok kiri. Bapak A negur, "Hey, sudah kubilang ITS itu belok kanan". Anak muda itu terus saja belok kiri. Bapak A lantas menggebuki anak muda tersebut.

Lucu kan?. Tapi seringkali, seperti itulah karakter keberagamaan kita. Padahal tugas kita adalah penyeru, penasehat, pengingat. Jangan ada tindak pemaksaan kehendak dalam menyeru. Apalagi sampai pada tindak kekerasan. Karena Tuhan dan Rasul kita sejak dulu telah melarang itu. Karena Tuhan kita menghendaki perbedaan pemahaman dan penafsiran bisa menjadi rahmat, bukan malah menjadi adzab.

Saudaraku, tak jarang kita terjebak dalam sikap mutlak-mutlakan dalam menyikapi perbedaan. Merasa pemahaman islam yang kita yakinilah yang paling benar, sedangkan yang selain kita, salah, sehingga harus dipaksa menuju pendapat yang kita yakini. Tentu saja kecenderungan ini salah satu pertanda realitas sosial yang tidak sehat. Sikap menganggap hanya keyakinan kita sendiri yang benar dan yang lain salah, itu muncul hanya karena ekspresi naluri kemanusiaan kita yang senantiasa ingin mempertahankan kebenaran yang kita yakini.

Namun, saudaraku, apakah lantas naluri itu menyebabkan kita dengan mudah melabeli orang-orang yang sependapat dengan kita sebagai ‘kawan’ serta melabeli yang tak sependapat dengan kita sebagai ‘lawan’?. Apakah lantas naluri itu menyebabkan kita mudah tersinggung, cepat jengkel, gampang marah, dan spontan naik pitam ketika melihat ada pemahaman baru yang disodorkan kepada kita?.

Saudaraku, kebenaran islam itu sangatlah luas, dan kita hanyalah salah satu orang yang berusaha menjadi salah satu penghuni di luasnya kebenaran itu. Tentu bukan hal yang bijak jika kita mempersempit islam sebatas pemahaman kita tentangnya. Mungkin kemusliman kita ini masih belum ada apa-apanya dibanding dengan yang dikehendaki Allah. Maka alangkah indahnya jika kita senantiasa berada dalam kesiapan menerima nilai-nilai kebenaran yang mungkin dulu belum kita insafi.

Saudaraku, banyak hal yang belum kita tahu. Banyak pengalaman yang belum kita serap hikmahnya. Banyak tafsir yang masih belum kita renungi. Banyak ilmu yang belum kita amalkan. Yang kita tahu tak lebih dari sebiji dzarrah dibanding realitas kebenaran yang disediakan oleh Allah.

Maka, saudaraku, ketika kita telah meyakini sebuah kebenaran, agaknya kalimat berikut bisa menjadi bahan renungan, ‘Apa yang telah saya yakini, inilah yang menurutku benar, tapi mungkin ada salahnya. Sedangkan apa yang anda yakini itu menurut saya salah, tapi mungkin ada benarnya’. Dengan kesadaran itu, semoga kita bisa menjadi manusia yang rilex menyikapi perbedaan pendapat. Tidak mudah menutup diri jika datang kebenaran-kebenaran baru. Tidak mudah membatasi diri pada pemahaman-pemahaman lama yang masih memiliki peluang terhadap kesalahan.

Saudaraku, satu yang pasti, semua manusia mendambakan kebaikan. Seperti tumbuhnya tunas pohon yang ditempatkan dalam gelap, ketika tunas itu menjumpai seberkas cahaya dari sebuah lubang kecil sekalipun, ia akan tumbuh menuju cahaya itu. Begitulah jiwa manusia. Pada hakikatnya tak ada orang yang mau berada di jalan yang sesat. Secara fitrah, nurani manusia senantiasa mendambakan cahaya. Hati manusia senantiasa mendamba datangnya hidayah.

Maka ketika kita melihat kedzaliman, yang kita benci janganlah orangnya. Bencilah kedzalimannya. Karena mungkin jiwa orang itu belum menjumpai berkas cahaya. Mungkin ia masih berproses mencari cahaya. Bantulah ia. Cintai dia. Jangan malah dijauhi. Bahkan seharusnya kadar cinta kita kepadanya jauh lebih tinggi. Mengapa?. Karena ia masih membutuhkan cahaya. Bersabarlah dengan proses setiap manusia. Jangan pernah berpikiran final. Temanilah orang yang belum sholat agar ia segera sholat. Dampingilah orang yang suka berjudi agar perlahan ia meninggalkan judinya. Temanilah para koruptor agar ia segera menaubatinya.

Mudah yah kalau diungkapkan dengan kata?. Saya percaya memang hal ini sangat sulit jika diaplikasikan dalam perbuatan. Tapi sulit bukan berarti harus ditinggalkan sama sekali, bukan?.

Prinsip dakwah Rasulullah pun sangatlah santun, sehingga wajar bisa dengan cepat diterima dan menyebar di seluruh Jazirah Arab. Metode dakwah beliau yaitu bil hikmah. Dengan hikmah. Berdakwah dengan tegas, arif, dan jelas, agar umat dapat memahami kebenaran dengan jelas.

Lalu dengan mau’idhatil hasanah. Memberi nasehat yang baik, dengan menyenangkan, menyejukkan, tidak menyakitkan, tidak memaksa. Agar seseorang tertarik untuk mengikuti ajakan kepada kebenaran berdasarkan kesadaran dan hasil proses pemikiran, bukan dengan doktrinasi, apalagi hasil pemaksaan.

Bahkan ketika harus berdebat untuk menyampaikan kebenaran, perintah kesantunan masih berlaku. Berdebatlah dengan cara yang baik.. Wajaadilhum billatii hiya ahsan. Karena ada kalanya dakwah dilakukan dengan diskusi, tukar-pendapat, dialog.

Dengan metode dakwah seperti itu insya Allah keberhasilan terbuka lebar dan mudah tersebar dalam waktu yang relatif singkat. Dalam Surah QS. An Nahl ayat ke seratus duapuluh lima Allah telah berfirman, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan berdebathlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”.

Ketika dakwah tertampilkan dengan indah dan santun, semoga cahaya akan datang kepada sebanyak mungkin manusia. Dan manusia-manusia itu akan berkumpul mendekati cahaya, mengitarinya seperti laron-laron yang senantiasa berkerumun di sekitar pelita.

Sumber : Buku "Izrail Bilang Ini Ramadhan Terakhirku" dengan beberapa perubahan, karya: Ahmad Rifai Rifan